Minggu, 04 Desember 2016

Sebab persimpanganlah yang memisahkan kita.

Di persimpangan jalan kita dipisahkan. Ketika engkau dan aku mengambil jalan yang berbeda. Mengambil arah yang taksama.

Di persimpangan jalan pula kita dulu dipertemukan. Ketika kita dari arah yang berbeda kemudian mengambil arah yang sama.

Mungkin saat ini kita masih sejalan, namun suatu saat nanti akan datang persimpangan yang memisahkan jalan kita.

Kita hanya sejenak berada dalam jalan yang sama.

Mari kita nikmati waktu sejenak kita kawan. Selagi kita sejalan, sebelum pada akhirnya dunia memisahkan jalan kita, dipersimpangan.

Aku berharap akan selalu ada kawan yang membersamaiku sampai ke ujung jalan ini.
Langkah ini kan terasa berat jika sendiri.

Jumat, 02 Desember 2016

Rumput Liar

Hanya iseng iseng saja, moto moto rumput liar yang ada di atas kosan. Yang pasti saya tidak tahu nama dan spesiel mereka apa, tapi bentuknya bagus dan unik. Kalau ada anak biologi yang mampir, mungkin saya bisa dikasih tahu nama dan kegunaan mereka apa. Semoga bermanfaat.











Jumat, 01 April 2016

Input, Proses, lalu Output

Dalam pelajaran sederhana mengenai suatu tahapan pembuatan suatu barang kita mengenal hal yang bernama input, output lalu proses. Itu adalah hal yang mendasari ilmu pembuatan, sebelum di tambahkan pernak pernik lain sehingga terlihat lebih kompleks. Ya, yang menjadi dasar adalah tiga hal itu, input, output dan proses.

Sebagian dari kita sudah tahu bahwa input adalah bahan mentah yang kemudian akan diproses lebih lanjut. Sementara output adalah barang jadi hasil jadi setelah kita memproses bahan mentah. Yang menjadi jembatan diantara ialah proses. Proseslah yang mengubah barang mentah menjadi barang jadi. Untuk mencapai suatu output berbeda tentu akan dibutuhkan proses yang berbeda. Begitupun jika kita memasukan input yang berbeda, dengan proses yang sama output yang adapun berbeda.

Dalam kehidupan kita mengumpamakan kisah ini menjadi suatu sendikit pelajaran yang berarti. Jika kita saksikan, input ialah kondisi kita di saat ini, saat kita tengah membaca tulisan ini. Sedangkan output ialah kondisi yang kita inginkan di waktu yang akan dating. Entah itu satu tahun, 10 tahun atau berapa tahun lagi. Untuk sampai kepada kondisi yang kita inginkan tersebut ada suatu proses yang harus kita lalui.

Dalam berproses tentu akan dibutuhkan waktu, sehingga kita harus bersabar dalam melaluinya. Bersemangatlah dalam berproses untuk meraih tujuan(output) yang kita inginkan.

Sabtu, 19 Maret 2016

Konspirasa

Oleh oleh dari kunjungan Konspirasa, pameran yang diadakan oleh mahasiswa DKV ITB 2013. Sebenarnya hendak bertemu teman, tapi pas masuk ke sana, enggak ada satupun yang dikenal. Ya sudah, jalan jalan saja sambil lihat lihat karya mereka. Eh ya, Konpirasa diadakan tanggal 22-24 Januari 2016 di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan No. 5, Bandung. Semoga bermanfaat.










Diambil dengan dengan kamera Handphone Sony Xperia M Dual 5MP. Gambar diambil di lokasi pameran Konspirasa

Jumat, 18 Maret 2016

Berbaik Sangka

Ketika dihadapkan kepada suatu permasalahan ataupun kejadian. Kita hanya mempunyai dua pilihan antara berbaik sangka ataupun berburuk sangka. Terserah kepada kita hendak memilih mana di antara kedua hal tersebut. Boleh kita berbaik sangka, boleh kita berburuk sangka. Namun bila boleh saya menyarankan berbaik sangkalah terhadap peristiwa tersebut. Dari kejadian tersebut pasti ada sisi baik yang bisa kita ambil yang bisa dijadikan hikmah untuk kemudian hari.

Setelah suatu peristiwa terjadi, entah kita mau berbaik sangka atau berburuk sangka, kejadian tersebut tidaklah bisa diubah. Tidak layak bagi kita untuk berandai andai akan apa yang telah terjadi, pilihannya antara dua itu berbaik sangka ataupun berburuk sangka. Meskipun kita tidak bisa merubah yang telah berlalu, paling tidak sikap kita akan sedikit merubah apa yang kemudian dating kepada kita. Dengan berbaik sangka seakan yang dating kepada kita menjadi kebaikan, begitupun sebaliknya dengan berburuk sangkanya kita seolah apa yang terjadi berupa keburukan.

Berbaik atau berburuk sangka sebenarnya bergantung dari sudut pandang mana kita menyaksikan sesuatu kejadian. Berbeda sudut pandang memberikan informasi yang berbeda pula kepada kita. Dengan kita melihat dari sudut pandang yang berbeda akan memberikan prasangka yang berbeda. Di dunia ini tak ada kebaikan yang benar benar murni ataupun kejahatan yang begitu kelam. Dari setiap peristiwa cobalah memandang dari sisi positif juga, tidak hanya sisi negative saja. Temukan kebaikan di dalamnya meski sekecil apapun itu. Jadikan itu sebagai bekal kita untuk berprasangka baik.


Dalam memandang sesuatu, terkadang lingkungan sekitar kita mempengaruhi. Lingkungan di mana kita tumbuh, lingkungan di mana kita bergaul, lingkungan bacaan kita akan mempengaruhi bagaimana kita memandang sesuatu. Ciptakan lingkungan kita sepositif mungkin mulai dalam diri kita. Kemudian  kita tularkan ke sekeliling kita, sehingga semua menjadi positif. Bahasakan pandangan positif kita sesuai dengan lingkungan kita agar mudah di terima dalam lingkungan kita:).

Rabu, 16 Maret 2016

Rencana Hujan

Aku harap apa yang kita rencanakan seperti hujan. Ia turun ke bumi dan memumbuhkan tumbuh tumbuhan yang bermanfaatan dari bumi. Aku harap rencana ini dapat memberikan kebermanfaatan bagi mahkluk lainnya. Tak hanya manusia, tapi juga hewan, tumbuhan dan lingkungan. Terus memberikan manfaat meskipun kita sudah tak ada. Dapat terus dinikmati tidak hanya kita, namun juga anak cucu kita.

Aku harap apa yang kita rencanakan seperti hujan. Ia turun ditempat tempat yang tepat dan dalam takaran yang sesuai. Aku harap rencana ini sesuai dengan apa yang orang orang butuhkan saat ini. Rencana inipun tidak berlebih lebihan atau kurang, dalam kadar yang cukup. Tidak membebani kita yang merencanakan dan bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Aku harap apa yang kita rencanakan seperti hujan. Ia mengingatkan kita pada kenangan ketika kita bersamanya. Aku harap rencana kita dapat menjadi kenangan yang amat berarti, baik bagi kita maupun orang lain. Ketika kita ingat dengan apa yang kita lakukan dalam rencana kita, kita akan senantiasa tersenyum. Paling tidak rencana ini bisa menjadi dongeng untuk anak cucu kita, tentang perjuangan kita dalam rencana ini.

Aku harap rencana ini tidak menjadi seperti banjir. Ia membawa kesedihan bagi orang lain. Ia membuat orang orang menjadi kehilangan, baik barang maupun orang lain. Aku tidak ingin rencana ini malah merugikan orang lain. Jangan sampai rencana ini membuat mereka bersedih sehingga lupa bagaimana cara tersenyum.

Rencana ini memang tidak akan mudah. Akan ada perubahan rencana, yah kita hanya bisa merencanakan, Tuhan yang lebih kuasa daripada kita, manusia. Lapangan akan selalu dinamis, kalau kata teman saya. Mungkin ditengah jalan, ada banyak cekcok karena ada yang tidak sesuai dengan rencana kita. Mungkin akan ada begitu banyak air mata. Tapi kuharap semoga kita bahagia dalam menjalan rencana ini.


Mumpung masih hujan, kita sama sama berdoa agar rencana kita di ridhoi oleh Nya. Dari rencana kita memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Rencana kita menjadi kebaikan baik bagi kita, orang lain juga Indonesia.

Bandung, setelah hujan reda

Senin, 14 Maret 2016

Sesudah Kesulitan ada Kemudahan

Buku : Moga Bunda Disayang Allah
Pengarang : Tere-Liye

Ini kisah tentang anak kecil berusia enam tahun yang bernama Melati. Sebenarnya Melati amat lucu dan menggemaskan. Apabila orang lain menyaksikannya, ia seolah anak kecil normal pada umumnya. Mereka mungkin tak menyangka bahwa Melati buta, tuli, dan sekaligus bisu. Dia tidak seperti itu ketika lahir. Itu terjadi ketika keluarga besarnya berlibur, kepalanya terkena ‘brisbee’. Ketika pulang satu persatu keterbatasan Melati muncul, ia mulai buta, kemudian tuli, dan hanya bisa berucap ‘Baa’ dan ‘Maa’ saja. Di tengah keterbatasannya, ia memiliki rasa ingin tahu yang amat besar. Hanya saja ia tak dapat menyampaikannya. Ia hanya bisa mengerung marah dan melempar apa saja yang ada di sekitarnya. Atas keterbatasannya orang lain cenderung menyebutnya sakit jiwa. Padahal, ia hanya belum menemukan cara menyampaikan apa yang ada di kepalanya. Di dalam dunia Melati hanya ada gelap, semuanya hitam gelap, senyap, tak ada suara sama sekali. Sungguh malang memang.

Ini juga kisah tentang pemuda tampan bernama Karang. Sebenarnya ia memiliki masa kecil yang kurang beruntung, yatim piatu dan hidup di jalan. Sedari kecil ia tak pernah mengenal kedua orang tuanya. Beruntung bagi Karang, ada yang peduli padanya, menjadinya anak asuh beserta anak anak kurang beruntung lainnya. Ketika menginjak dewasa, Karang memutuskan untuk pergi ke Ibu Kota, menukar ketidakberuntungannya ketika kanak kanak dengan janji masa depan yang lebih baik. Di Ibu Kota, Karang bersama relawan lainnya mendirikan Taman Bacaan untuk anak anak yang tidak beruntung. Ini amat sesuai dengan Karang, ia seolah memiliki kemampuan untuk memahami anak anak termasuk apa yang mereka rasakan. Ia mampu membuat bayi yang menangis menjadi tenang cukup dengan melihatnya. Di Taman Bacaan tersebut, ada anak yang begitu spesial, namanya Qintan. Qintan sebenarnya gadis kecil yang berkaki lumpuh. Ia berjalan dengan dibantu tongkat. Suatu hari, saat mendengarkan Karang bercerita -Karang amat pandai bercerita, Qintan bertekad untuk bisa berjalan sendiri. Ia kemudian menyembunyikan tongkatnya, berlatih berdiri, jatuh, berlatih lagi. Begitu seterusnya. Akhirnya Qintan mampu berdiri, berjalan hingga berlari meskipun awalnya harus lecet sana sini. Ia sangat senang saat itu. Begitupun Karang.

Tapi hidup tak selamanya datar. Suatu hari Karang, anak anak berserta kakak relawan dari Taman Bacaan berlibur di sebuah pulau dekat Ibu Kota. Mereka menumpang perahu nelayan. Awalnya mereka baik baik saja. Ketika pulang berlibur, terjadilah badai sehingga kapal yang mereka tumpangin terbalik. Di kecelakaan tersebut 18 anak meninggal, salah satunya Qintan. Ini membuat Karang terpukul. Ia memutuskan pulang ke Kota asalnya. Ia meninggalkan Taman Bacaan beserta Kinasih, gadis lesung pipi-nya. Selama 3 tahun Karang mengalami mimpi buruk tentang kenangan kecelakaan tersebut. Selama 3 tahun pula setiap malam Karang mabuk untuk menghilangkan kenangan tersebut, lebih tepatnya lari. Tapi tetap saja kenangan tersebut muncul dalam mimpinya.

Perjalanan hidup akhirnya mempertemukan Karang dan Melati sesuai skenario besar-Nya 3 tahun setelah kecelakaan tersebut. Karang, yang bisa merasakan apa yang dirasakan anak anak, merasakan betapa besarnya rasa ingin tahu Melati yang tak tersalurkan, merasakan betapa gelapnya dunia Melati. Karangpun tergugah hatinya untuk membantu Melati agar Melati dapat mengenal sekitarnya, mengenal Nya. Meski awalnya kedatangan Karang ditolak sebab ia amat kasar dan masih suka mabuk. Seiring waktu Melati mengalami kemajuan, ia bisa makan dengan sendok, bisa duduk di atas kursi meski agak lambat. Karangpun berubah, ia tidak lagi berbuat kasar kepada Melati, tidak pula mabuk. Di akhir cerita Tuhan mengirimkan pertolongan-Nya, memberikan Melati cara agar dapat mengenal sekelilingnya, mengenal Nya. Ternyata tangan Melati amat sensitif, memiliki kemampuan mengenal sekelilingnya, menjadi ‘telinga dan mata’ bagi Melati. Mulai saat itu rasa ingin tahunya tersalurkan, ia mulai mengenal, memahami apa yang ada disekitarnya. Di ujung cerita, Melati mengucapkan ‘Moga Bunda disayang Allah’, kalimat yang selalu ingin Bunda dengar dari Melati dalam bahasa Melati.

Ada banyak pesan moral yang dapat kita petik dari kisah ini. Paling banyak ialah tentang bersyukur. Bersyukur dengan kondisi kita saat ini, terlebih bagi kita yang terlahir normal. Kitapun masih diberikan cara bagaimana memahami sesuatu, bagaimana kita melampiaskan emosi kita dengan baik. Kitapun masih diberikan kemudahan dalam mengenal sekililing kita, mengenal-Nya. Bersyukur itu tidak hanya lewat lisan kita saja. Bersyukur bisa kita pancarkan dari seluruh bagian dari diri kita. Kita dapat bersyukur dengan menjadikan hal hal yang dikaruniakan kepada kita menjadi bermanfaat bagi orang orang di sekitar kita, tak hanya untuk diri kita sendiri.

Selain bersyukur, pesan moral selanjutnya ialah menyadari bahwa Tuhan itu Maha Adil. Mungkin karena keterbatasan akal pikiran kita, kita tak menyadari adanya keadilan-Nya. Kita sering mempertanyakan dimana keadilan-Nya, tanpa sadar bahwa keadilan-Nya ada disekitar kita. Yakinlah Ia telah menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya, dalam takaran yang sesuai pula. Selain tentang keadilan, harus kita sadari bahwa pertolongan-Nya akan datang tepat pada waktunya. Bukan menurut kita sebagai manusia, tapi menurut-Nya, selaku sang Pencipta. Pertolongan tersebut langsung dikirim oleh-Nya, tanpa perantara pos yang harus menunggu lama. Setelah kita berusaha keras, bersabar dan berdoa, maka pertolongan tersebut akan datang sesuai kehendak-Nya. Yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Pesan moral selanjutnya ialah tentang masa lalu. Setiap orang pasti memiliki masa lalu, dan tak semua masa lalu kita baik. Terkadang ada kenangan dalam masa lalu kita yang menyakitkan, sehingga kenangan tersebut selalu kita ingat, bahkan masuk ke dalam mimpi. Kadang kita enggan kenangan tersebut menjadi bagian dari masa lalu kita. Tapi kita harus menerima kenyataan tersebut, bahwa kenangan tersebut adalah masa lalu kita. Membiarkannya mengalir dan menjadi bagian dari kita. Mencoba berdamai dengannya dan mengambil pelajaran untuk bekal di masa yang akan datang. Ketahuilah kawan, terkadang itu sulit.

Pesan moral terakhir yang saya dapat ialah terkadang kita lebih menyesali hal hal yang tidak kita lakukan dibanding apa yang telah kita lakukan, meskipun yang kita lakukan adalah kesalahan. Kalau pendapat saya, hal yang tidak kita lakukan kadang kita rasa lebih baik dibanding apa yang telah kita lakukan. Pikir kita, kalau kita melakukan hal tersebut, hal buruk yang sekarang terjadi tak akan terjadi. Tapi kita tak akan pernah tahu hasilnya akan seperti apa jika kita melakukannya. Mungkin alangkah baiknya jika kita tidak menunda kebaikan yang seharusnya bisa kita lakukan saat itu juga.

Terima kasih telah membacanya. Mungkin tak seberapa dibandingkan dengan cerita dan pesan moral yang ada didalam novelnya langsung. Alangkah lebih menarik apabila membaca bukunya langsung. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam kata.