Jumat, 17 Februari 2017

Halaman Terakhir

Kupastikan datangi halaman terakhir
Kutuliskan semua di buku itu
Kupastikan temukan halaman terakhir
Kuterus menulis dan tak sanggup berhenti
Kudatangi halaman terakhirku
Bukan dia yang datangiku
Kutak tahu seberapa tebal bukuku

Bila halaman terakhir itu terbuka
Kan selesai sudah bukuku
Dan tak bisa tergantikan yang lainnya
Selesai semua ceritaku

Semua coba tahan air mata
Tanda titik dibuku telah ditorehkan
Dan tak bisa dihapus lagi

Kukan hadap Illahi
Simpul senyum hilang
Inginku coba ukir lagi diwajahmu
Namun kutak bisa apa apa lagi

Bukuku telah selesai
di halaman terakhir

Purworejo, 26 Februari 2009

Rabu, 15 Februari 2017

Kisah Seorang Kakek pada Cucunya

"Terkadang aku merindukan masa masa itu. Masa ketika kita terlalu ngotot mempertahankan teman kita, meskipun kadang ia bisa di pandang beban. Kita saat itu berdalih karena ia adalah bagian dari keluarga kita. Padahal saat itu belum ada satupun dari kami yang sudah menikah. Hehehehe. Kakek bahkan masih culun pada saat itu." kisah sang kakek pada cucunya, ketika mengenang masa mudanya.

"Ah, tapi kadang kita lupa dengan ucapan itu, ketika tak ada suasana yang membuat kita seperti itu. Zaman seolah melunakkannya. Melupakan semangat kami yang dulu. Setelahnya kami mulai fokus kepada yang lain. Masing-masing dari kami memilih jalan yang berbeda. Kadang kami kehilangan yang lain, ataupun kadang kami meninggalkan yang lain." lanjut sang kakek.

"Kakek hanya bisa berharap, kakek dapat terus mengenangnya. Kenangan ketika kakek muda" tutup sang kakek sambil terkekeh. Sementara cucu perempuannya sudah tertidur sambil tersenyum dengan album foto yang masih terbuka. Lantas sang kakek mengendong cucunya ke kamar, ditidurkannya di atas kasur. Ia tarik selimut untuk cucunya, diusap kepala sang cucu seolah membisik doa serta harapan untuk sang cucu.

Sang kakekpun pergi menuju ruang tengah, membereskan album yang tadi dibuka oleh cucunya. Ia melihat melihat foto kusam yang terpampang disana. Fotonya beserta kawan satu angkatannya, foto saat ia masih muda.

“Seandainya aku bisa muda kembali, tentu akan aku buat sebanyak mungkin kenangan bersama kalian. Kenangan tentang indahnya perjuangan. Di usia setua ini, mungkin hanya akan terdengan salah satu dari kita telah tiada. Semoga perjuangan kita tak sia sia.” ucapnya lirih, lantas tersenyum dan mengembalikan album tersebut ke tempat semula.
Iapun mematikan lampu dan menuju kamarnya. Beristirahat.

Senin, 13 Februari 2017

Tidak Sedang Baik Baik Saja

“Jadi gimana kabar temen kamu itu?” tanya ibu selepas aku menutup teleponku.

Adalah kebiasaan ibu, bertanya kabar tentang teman temanku. Terlebih yang pernah bertemu dengannya.

Hari ini ibu menanyakan kabar Ari, seorang teman yang tanpa sengaja bertemu dengan kami di stasiun kereta. Waktu itu Ari hendak pulang kampung, sementara kami hendak jalan jalan menggunakan kereta. Kebetulan kami satu kereta. Hanya saja beda gerbong, kami di gerbong depan sementara ia di gerbong belakang. Entah kenapa hari itu ibu bertanya tentang Ari. Mungkin karena perangainya yang cukup sopan pada ibu waktu itu.

Akupun menceritakan kabar Ari saat terakhir kami berjumpa di kampus. Menceritakan bahwa ia seperti sedang ada masalah. Sebab ia kadang terlihat murung ketika aku berpapasan dengannya. Ia sebenarnya tersenyum ketika berjumpa denganku, namun senyuman yang dipaksakan. Aku sebenernya sangat ingin mengobrol dengannya perihal masalah apa yang ia hadapi. Namun karena kesibukan kami masing masing, kami jarang bertemu. Sebenarnya aku agak khawatir padanya, dan wajahku sudah menggambarkan kekhawatiranku sekarang.

“Coba kamu telepon dia sana, mungkin dia butuh bantuan.” saran Ibu, seakan bisa sudah menangkap sinyal kekhawatiranku.

Awalnya pipiku memerah, aku agak salah tingkah. Lantas akupun segera meneleponnya. Menanyakan kabarnya. Serta menanyakan masalah yang ia hadapi sekarang, lalu menawarkan bantuan bantuan yang dapat kuberikan kepadanya. Namun jawabnya cukup singkat, hanya beberapa kata, jauh lebih singkat dibandingan omelan omelan yang kuberikan padanya.

“Aku baik baik saja kog. Gakpapa. Santai.” begitu jawabnya. Lantas kututup saja teleponnya.

“Ia gakpapa katanya Bu. Baik baik aja.” ucapku pada ibu setelah kuletakan handphoneku.

“Temanmu itu sebenernya tidak sedang baik baik saja, meskipun dia bilang baik baik saja. Ia bilang begitu hanya untuk menenangkanmu, agar anak ibu ini tak terlalu khawatir padanya.” Ibu tertawa kecil, sedikit mengodaku.

“Tapi kenapa ia gak mau menceritakannya padaku?” protesku, mungkin saat itu pipiku kembali memerah.


“Sudahlah, esok atau lusa, ketika ia sudah selesai dengan permasalahannya, ia pasti menceritakannya padamu.” Ucap ibu panjang lebar sembari mencoel hidungku yang tak mancung kembali menggodaku.

Jumat, 10 Februari 2017

Hadiah Hydrangea Kecil

Esok hari, salah satu teman dekatku akan diwisuda. Ia satu angkatan denganku, satu almamater, hanya saja beda jurusan. Ia sangat menyukai tumbuh tumbuhan, terlebih bunga. Salah satu bunga yang ia sukai ialah hydrangea. Ia seorang laki laki, entah kenapa ia sangat menyukai bunga tersebut. Mungkin dulu ia sempat naksir seorang wanita yang menyukai bunga tersebut. Lalu ia kepo, mencari tahu tentang bunga hydrangea dan malah suka dengan dengan bunga tersebut. Yah mungkin saja.

Hari ini aku menghabiskan waktu seharian untuk berkeliling kota. Mencari bunga hydrangea untuk hadiah wisudanya. Memang tidak susah menemukan bunga itu di kota sebesar Bandung. Namun, jarang yang menjualnya ketika masih kecil. Rata rata menjual yang sudah berbunga. Yah, aku memang sengaja tidak memberikan yang sudah berbunga untuknya.

Malam ini satu pot hydrangea kecil sudah ada, kotak untuk wadah juga sudah ada. Tinggal aku berikan pesan kecil untuknya. Aku hanya menuliskan pesan singkat saja.

“Aku memang sengaja memberikan bibit kecil ini kepadamu, bukan malah bunganya. Kuharap engkau dapat merasakan perjuangan dalam menanamnya. Bagaimana perjuanganmu dalam menumbuhkan dan merawatnya. Dan juga, ketika itu sudah berbunga, kelak kau akan lebih bahagia, sebab itu hasil usaha kerasmu. Semoga kau senang menerimanya. Selamat wisuda bro :)
Salam, temanmu.”

Hari ini sudah pukul satu siang. Seharusnya ia sudah keluar dari auditorium bersama teman teman satu jurusannya. Biasanya kami satu jurusan beramai mengarak kakak atau teman kami yang diwisuda. Akhirnya kutemukan dia sedang mengobrol berdua dengan seorang wanita. Teman satu organisasi katanya.

“Bro. Selamat wisuda bro…”, ucapku sambil menyalami dan memeluknya, “Ini buat maneh, hehehe” keberikan sekotak hadiah yang semalam kupersiapkan padanya.

“Wah, apaan nih bro?” ia menerima kotaknya dan hendak membukanya.

“Eits, jangan dibuka dulu. Ntar aja dibukanya kalo udah selesai.” Cegahku melarangnya.

“Oke oke. Tapi kita foto dululah” ajaknya mengeluarkan kamera. Lalu meminta LO-nya, yang merupakan adik tingkatnya, untuk mengambilkan gambar. Kamipun berpose, memamerkan hadiah dariku.

“Eh, aku pamit dulu ya, mau ketemu yang lain. Kotaknya jangan digoyang goyangkan ya. Hehe.” Aku berpamitan padanya setelah berfoto ria, sambal melambaikan tangan. Aku agak buru buru sebenarnya. Aku hendak bertemu dengan teman temanku yang lain. Masih ada banyak hadiah yang harus kuberikan pada yang lain.

“Oke. Hati hati.” Pesannya.

Akupun menghilang dalam kerumunan orang orang.

Malam harinya handphoneku berdering, ada pesan masuk. Rupanya dari temanku yang hari wisuda. Sepertinya ia sudah membuka hadiah dariku. Isinya cukup singkat.


“Kar, makasih :).” Begitu bunyinya, lalu ia mengirimkan foto hydrangea kecil dariku. Akupun hanya tersenyum.

Bandung, 6 Februari 2017

Rabu, 08 Februari 2017

Tips Memberikan Tausiyah ala KLC

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS Luqman:13)

Hari itu saya menghadiri acara Forum Pengajar KLC. Hari minggu kemarin. Sebenarnya saya belum merasa layak untuk menjadi pengajar di sana. Namun apa daya, ada yang ‘meloloskan’. KLC merupakan kependekan dari Karisma Learning Club, berada dibawah naungan unit Karisma. Suatu unit dibawah Salman ITB. Unit ini bertujuan untuk membina karakter anak anak SMP dan SMA di Bandung. KLC sebenarnya hampir sama dengan kegiatan bimbingan belajar lainnya. Bedanya disini adik adik diajak mengaji dan diberikan tausiyah sebelum memulai belajar. Bahkan yang terpenting adalah kegiatan tausiyah dibandingkan kegiatan belajarnya, karena memang tujuannya untuk membina adik adik.

Pada awalnya, kami dijelaskan mengenai urgensi memberikan tausiyah. Kenapa sih kita perlu menyampaikan tausiyah sebelum belajar? Pembicara menerangkan dengan mengutip QS Lukman 13. Kita diharapkan seperti Lukman yang mengajak anaknya untuk tidak bersekutu kepada selain Allah sebelum memulai mengajarinya. Yang menjadi poin utama disini ialah tentang mengajak untuk beriman kepada Allah itu lebih utama sebelum mengajarkan ilmu ilmu lainnya.

Lantas apa yang harus kita lakukan agar tausiyah yang kita berikan itu sampai kepada adik adik kita? Pembicara saat itu, Syarifudin Teknik Kimia ITB 2013, memberikan tiga poin untuk kita.

Poin yang pertama perlu dibangun ialah tentang kedekatan. Sesuatu yang baik kadang susah ditangkap karena jauhnya jarak, dan yang kurang baik mudah ditangkap karena kedekatannya. Diawal awal kita perlu membangun kedekatan dengan saling mengenal antara kita dan adik adik. Cobalah dari diri kita sendiri yang memulai mengenal diri mereka. Minimal mengenal nama mereka, sehingga ketika memulai kegiatan tidak ada yang canggung. Selain mengenal mereka, kita bisa memberikan senyuman terbaik kita kepada adik adik kita. Adik adik kita mungkin sudah lelah dengan kegiatan satu hari ini. Jangan menambah kelelahan mereka dengan wajah kita yang jutek, tapi sambutlah mereka dengan senyuman terbaik yang kita miliki. Selain itu, cobalah bertanya tentang kegiatan apa yang telah mereka jalani. Disini mereka mungkin akan membuka diri. Dari diri kita, cobalah untuk memahami adik adik kita.

Poin yang kedua ialah tentang konten tausiyah yang kita berikan. Setelah terbentuknya kedekatan tentu obrolan kita akan lebih bermakna jika ditambahkan konten yang baik. Ketika hendak mengajar, persiapkanlah rukhiyah terbaik kita. Cobalah untuk mengaji terlebih dahulu. Selanjutnya, jangan lupa membaca materi tausiyah yang telah diberikan oleh tim KLC. Apabila diperlukan, kita bisa menambahkan materi dari luar ataupun memperdalam materi yang telah diperoleh. Bisa juga kita menambahkan contoh contoh sehingga lebih menyentuh adik adiknya. Apalagi, contoh contoh tersebut bersalah dari kisah kisah Sahabat Rasul atau pengalaman yang pernah kita sendiri kita alami.

Poin terakhir ialah mereview sebelum pulang. Di akhir pertemuan, kita bersama sama mereview apa saja yang telah kita dan adik adik peroleh. Baik itu dari kegiatan belajar mengajar yang dilakukan ataupun tausiyah yang diberikan. Harapannya, materi yang diberikan akan lebih diingat oleh adik adik.

Di akhir sesi, pembicara saat itu menutup dengan mengutip kata kata Ir. Soekarno yang berbunyi sebagai berikut.

“Men kan niet onderwijzen wat men wil, men kan niet, onderwijzen wat men weet, men kan alleen onderwijzen wat men is.
Orang tidak bisa mengajarkan apa yang ia mau, orang tidak bisa mengajarkan apa yang ia tahu, orang hanya bisa mengajarkan apa ia adanya.”

Jika boleh saya menambahkan, ada dua poin yang ingin saya tambahkan. Yang pertama ialah mendoakan adik adik kita. Bagaimanapun juga, Allah yang menguasai hati seluruh manusia. Hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati manusia, termasuk adik adik kita. Kita berdoa agar Allah tidak menjadikan lidah kita kelu dalam menyampaikan tausiyah. Dan berharap semoga tausiyah yang kita berikan sampai kepada adik adik kita, jangan sampai sisi buruk kita menjadi penghalang sampainya tausiyah dan materi pelajaran kita berikan. Poin selanjutnya ialah keteladanan. Tausiyah yang kita berikan tentunya akan lebih mengena apabila kita juga melaksanakannya. Ketika kita memberikan tausiyah tentang indahnya bersabar, tentunya kitalah yang terlebih dahulu harus bersabar. Insya Allah dengan demikian tausiyah kita akan lebih sampai kepada adik adik kita.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

Setiap anak memiliki sisi kebaikan di dalamnya. Cobalah temukan sisi kebaikan tersebut. Apabila sudah ketemu, kembangkanlah sisi kebaikan mereka. Semoga bermanfaat.

Bandung, 6 Februari 2017

Senin, 06 Februari 2017

Tujuan Hidup

Sore ini aku diminta menemani temanku, seorang pria, berkunjung ke sebuah toko buku. Katanya mencari ide untuk tugasnya. Ketika pulang kutanyakan kegelisahanku kepadanya, mungkinkah seseorang bisa kehilangan tujuan hidupnya. Beliau menjawab tidak, dan menambahkan berarti orang itu tidak memiliki tujuan hidup, atau mungkin tujuan hidupnya kurang kuat. Jika itu memang tujuan hidupnya ia akan terfokus untuk menujunya apapun yang terjadi. Dia tak akan goyah meski apapun yang terjadi, sebab itu tujuannya.

Aku masih bingung. Kemudian beliau memperlihatkan smartphonenya sambil melanjutkan kata katanya. Jika itu tujuan maka ada tiga hal, yakni jelas, baik dan untuk kepentingan bersama. Tujuan itu harus jelas, tujuan hidup semisal membuat Indonesia menjadi lebih baik itu tidak jelas. Lebih baik di bidang apa? Kenapa? Kitapun tidak bisa terlalu egois, mementingkan diri kita sendiri dalam tujuan hidup tersebut. Itu harus menjadi kepentingan bersama. Jika tujuan hidupmu sudah memuat ketiganya, tentu orang lain akan mendukungmu. Untuk menguatkannya kita perlu membaginya dengan orang lain. Terlebih kepada orang yang memiliki tujuan yang sama. Agar sentiasa ada orang yang akan mengingatkan kita kepada tujuan kita. Kitapun bisa mengajak orang lain dalam mencapai tujuan kita.

Beliau menambahkan lagi, tujuan hidup itu bisa lahir dari impian maupun masalah. Di Onepiece tujuan hidup Luffy berasal dari impiannya menjadi raja bajak laut. Sedangkan Nami memiliki tujuan untuk membebaskan desanya karena masalah.

Rabu, 01 Februari 2017

Hari Ini, Ayah Pulang

Bulan ramadhan dua tahun lalu, ketika usiaku baru dua tahun, ayah pergi meninggalkan kami. Ia berpamitan pada ibu dengan bahasa yang tidak aku pahami. Yang aku tahu, ayah pergi untuk berperang dan mungkin tak akan kembali lagi. Saat itu ayah sangat gagah sekali, dan ibu seperti wanita yang tertawan oleh ayah.

Ayah hanya berpamitan dengan sedikit kata kata, sambil memanggul senjata, hal yang sebenarnya ibu larang untuk diperlihatkan padaku, namun saat itu situasi begitu mencekam.

“Ayah pergi dulu Nak. Jangan nakal ya, jangan buat ibumu repot. Tolong jaga ibumu untuk ayah. Jadilah anak ayah yang kuat” ucapnya padaku lantas memeluk diriku.

“Aku berangkat dulu. Jangan pernah bersedih untukku, apalagi menunjukkan air mata di depan anak kita. Jalan ini memang jalan yang telah kita berdua kita pilih sedari dulu. Kita pasti akan berjumpa lagi. Paling cepat di dunia, dan semoga kita sekeluarga di bertemukan kembali di surga-Nya. Tolong jaga anak kita, jadikan dia pemimpin yang kuat dan seorang hafidz Qur’an”

Selesai mengucapkannya ayah hanya tersenyum dan mencium kening ibu. Selepas itu mencium perut ibu. Aku baru tahu kalau saat itu ibu sedang mengandung adikku.

Ayah kemudian berbalik badan, mengusapkku sambil berucap, “ Ayah berangkat dulu, Assalamu’alaikum”

Ia berjalan menjauhi kami, tanpa membalikkan badan, hanya melambaikan tangannya. Kulihat ibu seolah menahan tangis sambil mengusap perutnya. Entah kenapa, seolah antara menahan dan melepas ayah pergi. Mungkin itu alasan kenap aayah tak membalikkan badannya.

Aku dan ibu hanya bisa melihat tubuhnya menghilang dari kejauhan.

Dua tahunpun berlalu. Dan barusan aku dengar bahwa ayah telah pulang. Namun bukan pulang ke dunia. Tak terasa, air mata meleleh dari mata ini menyentuh pipiku.