Postingan

Jarak Kita.

Sore ini aku diantar kawanku menuju stasiun. Aku hendak pergi ke Bandung, memulai kembali rutinitasku. Sesampainya di sana kami duduk di kursi tunggu karena memang keretaku baru datang satu jam lagi.
“Jarak dari sini ke Bandung tuh sekitar 324 km …” ucap kawanku, sembari menunjuk papan petunjuk jarak, Ia menatapku lalu melanjutkan “… sama seperti jarakmu dengan dia, 324 km.”
Aku menggeleng pelan.
“Tidak. Kami mungkin berjarak lebih dari itu.” balasku sambil menatapnya. Dia mengernyitkan dahinya, tak paham.
“Apakah kau yakin dia berada di Bandung? Mungkin dia di tempat lain yang mana lebih jauh dari itu.” terangku padanya.
“Mungkin juga lebih deket daripada itu.” sergahnya.
“Ya.” balasku singkat.
Hening sejenak.
“Lagipula, dia yang kau maksud dengan dia yang kumaksud bisa jadi orang yang berbeda.” sambungku.
Kawanku hanya mengangguk angguk pelan.
“Kitapun tak pernah tahu, dia yang mana yang dipilihkan-Nya untukmu.” Balasnya.
“Ya.” ucapku lirih.
Aku melirik jam tanganku, sepertinya sudah waktunya m…

Ketika Maneh Marah

Kar, suatu saat nanti pasti maneh bakal marah ke seseorang. Entah karena alasan apapun itu. Ketika maneh marah, berkatalah yang baik baik ya. Sebab setiap ucapan itu akan diuji.Dan setiap ucapan itu adalah doa. Karena setiap ucapan itu akan dipertanggung jawabkan. Tak usahlah menyepet. Cukup berterus teranglah kenapa maneh marah. Ucapkanlah secara baik, jangan sampai melukai hatinya semarah apapun maneh ke dia.
Kar, semarah apapun maneh, jangan pernah membenci orangnya. Cukuplah kau benci perbuatannya. Maafkan dia. Mungkin dia gak tahu. Sebenernya maneh juga bisa ngelakuin kesalahan kayak dia. Dan bisa aja maneh pernah ngelakuinnya juga. Ada orang yang selalu berbuat salah ke kita, tapi kita tak pernah membencinya. Orang itu adalah diri kita sendiri.
Kar, seberapapun marah maneh, berikan kalimat kalimat yang membangun. Kita terlalu sering marah untuk menyalahkan tanpa pernah memberikan solusi. Bagaimanapun juga itu saudara maneh, akan selalu ada kewajiban maneh buat ngebantu dia. Minima…

Mencuci Kala Hujan

Aku bersender malas di ruang tengah, masih mengetik laporan tugas akhirku. Satu dua kali aku menguap. Aku masih sedikit mengantuk. Minggu pagi memang paling nikmat untuk tidur tiduran di kamar. Apalagi sekarang cuaca agak mendung. Kalau tidak kupaksakan keluar kamar, mungkin sekarang aku sudah ketiduran. Entah pukul berapa nantinya aku akan terbangun. Bisa gawat kalau laporanku tak kunjung selesai. Masak aku harus begadang terus.
Dari luar terdengar suara hujan yang mulai turun. Akhirnya hujan juga pikirku. Allahumma shoyyiban nafi’an, ucapku pelan. Hawa dinginpun mulai menyergapku. Untung aku sudah membawa selimut dari kamar. Teman sebelah kamarku muncul dari belakang. Mukanya agak lesu. Ia ikut bergabung denganku di ruang tengah, tidur tiduran malas di sofa.
“Maneh kenapa Di? Lemes gitu dah.” tanyaku, masih sambil mengetik.
“Tadinya mau nyuci baju Bang. Cuma hujan euy.” balasnya sambil memiringkan badan ke arahku.
“Udah, cuci aja sono. Siapa tahu ntar udah reda.” bujukku padanya.
“Tapi n…

Belajar Bahasa Pemrograman

Saat ini saya sedang mencoba belajar bahasa pemrograman R. Ini saya lakukan guna mendukung keinginan saya menjadi seorang data scientist. Saya belajar menggunakan aplikasi android Datacamp. Aplikasi ini tersedia gratis di Play Store. Selain untuk belajar R, aplikasi ini juga bisa untuk belajar Python serta MySQL.
Nah, agar saya bisa lebih memahami Bahasa R, saya mencoba membagikannya melalui blog ini. Tulisan mengenai bahasa pemrograman yang saya pelajari dapat dilihat dengan label pemograman.
Mohon maaf apabila nantinya banyak kekeliruan di dalam label ini. Mohon koreksinya jika ada yang salah. Apabila ada masukan tolong disampaikan ya. Mohon doanya juga agar dapat istiqomah dalam menuliskannya.
Terima kasih :)

Pengada-ada Cerita

Pagi itu aku diminta oleh temanku untuk mengantarkan berkasnya ke percetakan. Sesampainya di sana, aku melihat seorang gadis sudah duduk di kursi tunggu. Ia tampak anggun dengan memakai setelan batik yang dipadukan dengan kerudung coklat muda. Akupun menganggukkan kepala dan tersenyum padanya. Iapun membalas dengan senyuman yang cukup manis. Aku lalu duduk disebelahnya, berselang satu kursi. Kau tahu, ini kursi panjang satu satunya di percetakan ini dan bisa memuat empat orang. Seandainya ada kursi lain, pasti aku sudah memilih kursi itu.

“Masnya seorang pengarang ya?” gadis itu membuka pembicaraan sambil melirik ke amplop coklat di pangkuanku. Amplop yang bertuliskan ‘DRAFT BUKU’ milik temanku.
“Ah, ndak juga Mbak.” kujawab sambil memiringkan badan ke arahnya tanpa menatap matanya.
“Lah, terus apaan dong Mas? Masnya kan bawa draft buku ke sini?” selidiknya penasaran.
“Owh, ini mah draft punya temen saya mbak.” jelasku padanya sambil menunjuk amplop coklat milik temanku.
“Oooh.” dia b…

Mencari Kopi Aroma

Gambar
Dulu sekali, pernah teman sejurusan saya bercerita bahwa ada kopi yang cukup enak. Untuk bisa membelinya harus sampai antri terlebih dahulu. Namun, saat itu dia tak memberi tahu saya, kopi apa itu. Dan sayapun sudah lupa tentang itu.
Setelah saya lulus, saya mencoba untuk merasakan kopi yang lain. Biasanya saya mengonsumsi Kopi Kapal Api atau Kopi cap Cangkir yang saya bawa dari rumah. Seorang teman lalu menyarankan Kopi Aroma yang ada di dekat Pasar Baru. Sayapun mencoba bertanya-tanya kepada kawan saya yang orang Bandung. Mereka memberitahu, kalau untuk membelinya memang akan antre.
Tak cukup sampai di situ, sayapun mencoba untuk googling, sebenarnya mencari tahu harga. Apakah pas di kantong atau tidak. Dan betapa kagetnya saya, bahwa ini adalah kopi yang liputannya pernah saya tonton sewaktu kecil. Waktu itu, yang paling saya ingat ialah kopi ini disimpan terlebih dahulu sebelum dipanggang. Penyimpanan ini bertujuan untuk mengurangi kadar keasaman dalam biji kopi. Dalam hati saya ber…

Ayah, Anak dan Mentari Pagi

Selepas sholat shubuh, seorang anak duduk berdua dengan ayahnya di atap rumah. Mereka menunggu saat saat terbitnya matahari.
“Tuh, mataharinya udah keluar!” ucap sang ayah sembari menunjuk ke arah matahari.
“Waaaah. Bagus ya Yah!” teriak sang anak, terkesima.
“Iya, haha.” sang ayah tertawa kecil melihat tingkah laku anaknya yang kegirangan.
“Yah,” sang anak menarik narik baju ayahnya, meminta perhatian.
“Hmm,” sang ayah menengok kepadanya.
“Kalo adek bisa ngeberhentiin waktu, adek pingin ngeberhentiinnya sekarang juga!” ucap sang anak bersemangat, sementara ayahnya tersenyum saja.
“Kenapa emangnya?” selidik sang ayah.
“Biar kita bisa ngeliat pagi ini terus terusan.” jawab sang anak polos.
“Terus orang lain gak bisa liat dong? Apa adek enggak bosen?” selidik sang ayah lagi.
“Eh ya ding, orang lain gak bisa liat ya. Terus adek ntar bosen. Gak jadi deh. Haha.” sang anak tertawa memamerkan gigi kecilnya.
“Sip pinter!” ucap sang anak sambil mengacak acak rambut anaknya.
Sang ayahpun mengangkat anaknya…